bumi buton indonesia

bumi buton indonesia
PROSESI PINGITAN ALA BUTON

Kamis, 03 Maret 2011

SEJARAH SULTAN MURHUM

OLEH : Agus Risdianto



1. ASUL USUL DAN RIWAYAT HIDUP.


Tradisi Buton baik lisan maupun tulisan menuturkan bahwa Murhum yang semasa kecil bernama Lakilaponto lahir di istanah Raja Wuna diperkirakan pada awal abad ke XVI memiliki darah kebangsawanan Melayu, Jawa, Wuna, Konawe, Luwu dan Buton.
Sibatara ( Sri Batara) yang pernah menjadi duta keliling Kerajaan Majapahit untuk wilayah Timur Nusantara pada Medio abad ke XIV,melakukan perkawinan di Kerajaan Luwu ( Sulawesi selatan ) dengan Waboteo (Wetendiabe) dan melahirkan dua orang putra yaitu Laeli alias Sugipatani yang kelak menjadi raja Wuna I dan Latiworo kelak menjadi Raja Tiworo I. Sugipatani menurunkan Sugilaende (Sugimpeori) Raja Wuna ke II kemudian berputra bernama Sugimanuru Raja Wuna ke III dan kawin dengan Watuwapala anak dari Kiy Jula (putra Bataraguru Raja Buton ke III). melahirkan 3 orang putra yaitu :
1. Lakilaponto yang kemudian menjadi Raja Buton VI dan Sultan I
2. Laposusu
3. Wapogo
Dimasa kanak-kanak Murhum telah memperlihatkan sifat-sifat kepemimpinan, berbudi pekerti, tegas, suka menolong, pemberani, adil dan penuh kesabaran, sehingga mendapat perhatian khusus dari ayah handanya Raja Wuna ke III. Oleh karena itu Raja Wuna III berinisiatif untuk mengirim Murhum ke Istanah Raja Buton yang saat itu memerintah adalah Raja Mulae (raja Buton V ) paman dari pihak ibunya sebagaibelobamba ( salah satu Sistim Pengkaderan para calon pemimpin masa depan), untuk belajar tentang tata cara adat istiadat Istana peraturan-peraturan kenegaraan, akhlak dan sopan santun maupun kesatriaan.


II. MASA PERJUANGAN

Memasuki usia dewasa Murhum meninggalkan istanah Raja Mulae dan melanglang buana sampai di pulau Selayar bahkan menjadi salah seorang tokoh perlawanan dalam mengusir bajak laut Tobelo dan dalam pengejarannya terhadap para pengacau keamanan, Murhum tiba dipulau Marege ( wilayah Australia ) sekarang.
Ketika Murhum masih berada di Selayar situasi perairan di Kerajaan Buton sangat rawan sebagai akibat serangan bajak laut pimpinan Labolontio (bermata satu) mulai menyerang wilayah-wilayah pesisir Utara Kerajaan Buton, maka Raja Mulae ( Raja Buton ke V ) meminta Bontona Barangkatopa segera memanggil Murhum kembali ke Buton dengan tugas utama menghancurkan bajak laut Labolontio. Sementara itu di pusat Kerajaan Buton laskar kerajaan telah siap menunggu perintah untuk berangkat menghadapi bajak laut dan atas perintah Murhum (selaku pimpinan pasukan) berangkat menuju selat Buton antara daratan pulau Buton dan Pulau Muna (tiba di Boneatiro sekarang), terjadilah pertempuran yang amat dahsyat dan Labolontio tewas terbunuh ditangan Murhum sendiri. Maka sebagai bukti seusai perang kepala Labolontio dipenggal oleh salah seorang pasukan Murhum selanjutnya diambil untuk diperlihatkan kepada Raja Buton (Raja Mulae) serta dipertontonkan seluruh rakyat sebagai tanda kemenangan dan kedamaian diseluruh wilayah kerajaan (tengkorak Labolontio saat ini tersimpan pada Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buton).
Atas jasa Murhum membebaskan Buton dari kekacauan bajak laut pimpinan Labolontio maka sebagai keistimewaan, keagungan budi, dan rasa tanggung jawab dari seorang Raja, sehingga Murhum yang kemudian hari dinikahkan dengan Watampaidongi (putri Raja Mulae).
Murhum sebagai seorang kesatria asli yang penuh rasa tanggung jawab moral atas keamanan dan ketertiban wilayah-wilayah kerajaan leluhurnya yaitu Buton, Wuna, Tiworo dan Konawe, maka sekitar tahun 1520 atas restu Raja Mulae, Murhum dan pasukannya untuk kedua kalinya di berangkatkan menuju Banggai (Sulawesi Timur), sebagai pasukan perdamaian dalam rangka membantu masyarakat Banggai dari kemungkinan ancaman dan gangguan yang akan ditimbulkan oleh sisa-sisa pasukan Labolontio maupun ancaman dari kerajaan lain disekitarnya. Oleh karena itu kehadiran pasukan perdamaian dari Kerajaan Buton ini, maka rakyat Banggai merasa terlindungi sehingga Murhum dinyatakan sebagai pimpinan mereka, sekaligus menjadikan wilayah Banggai menjadi salah satu bagian wilayah Kerajaan Buton. Sumpah setia mayarakat Banggai, ketika Murhum hendak kembali kenegeri asalnya ( Kerajaan Buton ) setelah melaksanakan tugas ± 3 Tahun lamanya menjadi pasukan penjaga keamanan, ikut pula sekelompok masyarakat Banggai menuju Kerajaan Buton dan selanjutnya mereka ditempatkan disalah satu Pulau (wilayah Kerjaan Buton) Yaitu Pulau Wawonii.
Kesuksesan Murhum dalam beberagai misi politik (peperangan dan perdamaian) serta telah menjelajahi hampir seluruh wilayah Jazirah Tenggara dan Tengah Pulau Sulawesi bahkan sampai di utara Benua Australia menambah keyakinan dan kepercayaan para Raja sehingga Murhum di jadikan sebagai salah seorang kandidat calom pemimpin di Jazirah Tenggara Sulawesi.

III. MASA MENITI KARIR POLITIK

A. MENJADI RAJA KONAWE

Sebagai seorang patriot dan pembebas kemanusiaan pada masanya, Murhum telah menjadi sentrum para tetua adat di Jazirah Sulawesi Tenggara baik sebagai pimpinan perang maupun sebagai juru damai bahkan sebagai hakim (Juru Runding) dalam menyelesaikan berbagai kasus yang melanda beberapa kerajaan di Sulawesi Tenggara pada saat itu.
Ketika kerajaan Konawe (Kendari sekarang) salah satu negeri leluhur Murhum terjadi prahara/pertikaian dengan kerajaan Mekongga (saat ini menjadi wilayah Kolaka) maka atas permintaan Mokole Konawe kepada Raja Buton, maka Murhum diberangkatkan ke Kerajaan Konawe dengan dikawal sepasukan orang-orang pilihan dari Kadie/Wilayah Watumotobe (wilayah Kapontori sekarang), salah satu pasukan elit kelompok Matana Soromba dengan pertimbangan bahwa wilayah Watumotobe sama dengan kondisi alam kerajaan Konawe yang berhutan lebat.

Kehadiran Murhum bersama para pengawalnya disambut suka cita oleh Mokole Konawe karena betepatan dengan kesulitan yang dihadapi negerinya sedang bertikai dengan Kerajaan Mekongga. Keyakinan Mokole Konawe atas kemampuan Murhum beserta para pengawalnya sehingga diberikan kepercayaan penuh kepada Murhum untuk mengambil sikap sekaligus menjadi pimpinan pasukan Konawe dalam menyelesaikan krisis dengan Kerajaan Mekongga. Krisis tersebut tidak berlangsung lama dan kemenangan berpihak kepada Kerajaan Konawe atas jasa Murhum.

Berakhirnya Perseteruan dengan Kerajaan Mekongga maka Mekole Konawe mengundang para petinggi adat kerajaan untuk bermusyawarah, dalam hal mana pertemuan tersebut Mokole Konawe menyampaikan maksudnya untuk mengundurkan diri dari jabatannya karena faktor usia tidak memungkinkan untuk terus-menerus menjadi Mokole.

Beliau berpesan dan menitip harapan agar Murhum yang telah berjasa besar dalam menyelesaikan pertikaian dengan kerajaan Mekongga dapat kiranya dipertimbangkan sebagai salah seorang calon Mokole. Musyawarah mufakat suksesi jabatan Mokole Konawe berlangsung selama 8 hari 8 malam dan setelah mendengarkan saran, pendapat dari berbagai aspek tentang Murhum, maka diputuskan bahwa yang pantas untuk menjadi Mokole Konawe adalah Murhum dengan dasar pertimbangan Murhum seorang pemberani, berbudi pekerti, telah berjasa, juga keturunan Bangsawan Konawe (kemenakan Mokole) juga Mokole Konawe tidak mempunyai anak laki-laki.

Suksesi Mokole yang telah berlangsung selama 8 hari 8 malam tersebut dalam sejarah Konawe memberikan gelar kepada Murhum dengan istilah Halu Oleo, sejak masa itulah Murhum menjadi Raja Konawe, dan iapun kawin dengan salah seorang putri mantan Mokole yang dikaruniai 3 (tiga) orang putri yaitu Wakonawe, Wapoasia dan Walepo-lepo ( nama-nama tersebut telah diabadikan menjadi nama kampung di Wilayah Kendari saat ini).

B. MENJADI RAJA WUNA IV

Setelah sekian lama Murhum dalam perkawinannya dengan Wa Tampayidongi putri Raja Mulae (Raja Buton VI) maka datang perutusan dari istana Kerajaan Wuna dan menyampaikan bahwa ayahanda Murhum yaitu Raja Sugimanuru sakit keras sehingga diharapkan untuk kembali ke tanah kelahirannya (Kerajaan Wuna). Tidak berselang lama setelah Murhum tiba, maka ayahandanya (Raja Sugimanuru) mangkat. Dengan mangkatnya Raja Sugimanuru melahirkan kosongnya pimpinan kerajaan Wuna pada waktu itu. Syara Wuna mengadakan musyawarah untuk menentukan pengganti mendiang Raja Sugimanuru. Diantara 2 (dua) orang putra Sugimanuru yaitu Lakilaponto alias Murhum dan La Posasu, maka diputuskan oleh syara Wuna menetapkan Lakilaponto alias Murhum sebagai Raja Wuna ke IV dengan pertimbangan sebagai putra sulung Raja Sugimanuru.

Sebaliknya di Kerajaan Buton pada saat yang hampir bersamaan Murhum dipanggil pulang oleh Raja Mulae untuk urusan yang sangat penting sehingga dalam keadaan terpaksa jabatan sebagai Raja Wuna ke IV diserahkan kepada saudaranya yaitu La Pososu sebagai Raja Wuna ke V.

C. MENJADI RAJA BUTON VI ( SULTAN BUTON I )

Karena usia sudah uzur Raja Buton ke V yaitu Raja Mulae sangat menyadari kemampuan dalam mengendalikan roda pemerintahan mulai nampak menurun sehingga meminta pertimbangan syara Buton (Siolimbona) untuk menyerahkan jabatan Raja kepada Murhum dengan pertimbangan bahwa Murhum telah memberikan jasa dan pengabdiannya dalam menyelamatkan Kerajaan Buton dari berbagai gangguan, ancaman, juga didasari pribadi Murhum menunjukan sifat-sifat seorang pemimpin, jujur, bijaksana dan tegas mengambil keputusan, disamping sebagai anak menantu Raja Mulae.
Usul Raja Mulae mendapatkan respon positif dan suara bulat dari anggota legislatif Dewan Siolimbona untuk menetapkan Murhum sebagai Raja Buton yang ke VI. Pada awal masa pemerintahan Raja Murhum mengangkat Manjawari sebagai Sapati pertama dan Batambu sebagai Kenepulu pertama kedua orang yang disebutkan tersebut adalah putra asli Selayar dan Wajo Sulawesi Selatan, atas jasa keduanya membantu perlawanan Kerajaan Buton menghadapi bajak laut sehingga diberikan jabatan. Menurut catatan sejarah Buton Murhum menjadi Raja selama 20 tahun dimulai sejak akhir tahun 1538 Masehi.

Ketika memasuki tahun ke 4 menjadi Raja, ia pun kedatangan tamu, seorang muballig dari Johor ( semenanujung Tanah Melayu ) yaitu Syekh Abdul Wahid Bin Sulaiman. Dan dari padanya ia mengukuhkan keislamannya sekaligus juga memperoleh pengakuan sebagai Raja Islam dengan gelar Sultan Murhum Kaimuddin pada tahun 1948 Hijriah atau tahun 1542 Masehi. Dua puluh tahun kemudian sesudah menjadi Raja tepatnya pada tahun 1558 Sultan Murhum Kaimuddin memperoleh pengakuan dan pengukuhan kembali dari Sultan Rum ( Turki ) sebagai Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis Dan Kerajaan Buton berubah status menjadi Pemerintahan Kesultanan Islam.

Peristiwa tersebut menjadi momentum sejarah mulai membangun Pemerintahan Kesultanan Buton atas sendi-sendi Islam di Bawah bimbingan Syekh Abdul Wahid selaku penasehat Kesultanan pada saat itu. Antara lain dikukuhkannya Falsafah perjuangan hidup bermasyarakat yaitu Yinda-yindamo arataa somanamo karo, yinda-yindamo karo somanamo lipu, yinda-yindamo lipu somanamo agama (tiada meniadalah harta demi diri, tiada menidalah diri demi negeri, tiada meniadalah negeri demi agama ).

Dipuncak pemerintahannya Sultan Murhum telah menjadikan tokoh pemimpin dari 3 (tiga) Kerajaan yaitu Kerajaan Konawe, Wuna, Buton dan mempunyai wilayah teritorial yang sangat luas meliputi kepulauan Banggai, Buton, Muna, Kabaena, Tiworo, Kepulauan Tukang Besi, Wawonii, Marunene (Rumbia) pada pertengahan abad ke XVI.

Masih banyak prestasi lain beliau yang tidak dapat diungkapkan semuanya disini dan setelah 46 tahun memimpin Kesultanan Buton (baik sebagai Raja ke VI dan Sultan I), tepat pada tahun hijrat 991 bersetuju dengan tahun 1584 M Lakilaponto Murhum Sultan Kaimuddin perpulang kerahmatullah dalam usia kurang lebih 90 tahun, dimakamkan di Bukit Lelemangura dalam kompleks Benteng Wolio Kota Bau – Bau.

Sebagai akibat dari rasa cinta terhadap negeri dan tanah air serta rakyatnya, lahirlah rasa pengabdian yang tinggi pada seseorang yang patriotik. Tetapi seseorang yang memiliki rasa pengabdian yang dibuktikan dalam kenyataan kehidupan masyarakat, otomatis harus memiliki aspek-aspek kebudayaan yang lain seperti rasa kesabaran, rasa ketabahan (keuletan, ketekunan, kemauan yang keras), keberanian (berani berkorban dan tulus ikhlas, ketaatan), rasa optimis untuk mencapai kemenangan (kejayaan) rasa cinta terhadapt kebenaran dan keadilan, serta mempunyai rasa kerinduan terhadap kemakmuran dan kedamaian, didalam pengabdian terhadap Negeri dan rakyatnya seorang patriotik otomatis pula dipandang oleh rakyat dan masyarakatnya sebagai bapak, pemimpin, sehingga patriot itu juga pelindung, tokoh, pelopor dan pahlawan.

Nilai patriotik seseorang adalah nilai-nilai kebapaan, kepemimpinan yang diliputi oleh rasa cinta terhadap tanah air, negeri dan bangsa serta rakyatnya dan mempunyai rasa dedikasi yang tinggi dan berkemauan keras untuk membawa rakyat dan negerinya kealam bahagia, tentram dan damai, adil dan makmur, dan sejahtera. Jika Murhum dalam sejarahnya, ternyata adalah seorang patriotik, maka ia adalah :

1. Seorang pemimpin, seorang bapak, baik sebagai raja dalam pemerintahan, maupun seorang panglima perang, yang membawa negeri dan rakyatnya kepada persatuan dan kesatuan, dan tentram dari gangguan pengacau dari luar.
2. Seseorang yang mempunyai pandangan kearah masa depan yang gilang gemilang bagi negeri dan rakyatnya untuk hidup bahagia tentram dan damai yang telah dinyatakan, dihasilkan dan dimanfaatkan oleh rakyat dan negerinya, sehingga beliau dapat disebut sebagai seorang yang idialis-realis-fragmatis (ingat suasana pemerintahan beliau sebagai raja sebagai gelar Sultan).
3. Seorang yang sangat kasih dan cinta terhadap negeri negeri dan rakyatnya serta norma adat dan agama, melibihi kasih dan cintanya terhadap diri dan keluarganya.
4. Sudah sepatutnya Sultan Murhum Kaimuddin dapatlah dijadikan contoh dan suritauladan pimpinan masa depan dan oleh karenanya nama tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu nama apakah negeri, apakah pelabuhan laut, apakah pelabuhan udara atau yang lainnya dan pasti nama tersebut tetap terpatri didalam perjalanan sejarah dan pembangunan Sulawesi Tenggara secara keseluruhan.*****

Agus Risdianto
Sumber : http://www.facebook.com/home.php?sk=group_182030075144825&view=doc&id=205757609438738