bumi buton indonesia

bumi buton indonesia
POSE BERSAMA PEMERHATI BUDAYA DARI BELANDA

Kamis, 09 Oktober 2014

PUSAT PEMERINTAHAN BUTON MASA LALU TERDAPAT DIBAWAH TANAH KERATON BUTON KEDATANGAN MEREKA DENGAN MENGGUNAKAN JALUR PELAYARAN ANTARA LAUT SEGI TIGA BERMUDA DAN LAUT SELAT KALEDUPA

Oleh : Ali Habiu




Cerita-cerita yang berkembang yang diperoleh dari para ahli kebatinan asal negeri buton membenarkan bahwa dibawah keraton buton terdapat ruang yang luas tempat pusat pemerintahan pada zamannya.  Disana terdapat candi dan artifak lain yang menunjukkan bahwa di pulau buton pernah diperintah oleh penguasa yang menganut agama hindu-budha. Pintu-pintu yang mengarah ke lokasi bawah tanah tersebut terdapat 4 buah pintu dan semuanya telah tertutup rapat akibat dari pengaruh pergerakan tanah, disamping pengaruh lain yang tidak bisa dilukiskan. Salah satu pintu masuk ruang tersebut terdapat didekitar Lawa Lanto yang merupakan pintu utama mengarah ke laut. Dikisahkan oleh orang-orang tua kita bahwa setelah buton menganut faham islam yakni setelah dilantiknya Murhum sebagai Sultan I buton maka jejak-jejak peninggalan masa lalu yang berbau Hindu dan Budha mulai dimusnahkan satu persatu termasuk ditutupi dengan rapi agar tidak lagi menjadi lagenda terselubung turun temurun dikalangan masyarakat buton. Salah satu peninggalan hindu yang amat berharga adalah berupa Yoni yang terdapat di sekitar mimbar mesjid buton kini sudah tidak lagi ditemukan. Sebagian orang-orang tua buton menduga bahwa dibawah dasar mesjid keraton buton adalah sebuah bangunan candi yang megah tempat pemujaan Hindu-Budha pada zamannya yang setelah buton masuk islam peradaban ini di musnahkan dengan membangun mesjid di atasnya agar bisa tertutupi dengan rapi peninggalan kerajaan masa lalu itu tanpa merusaknya. Semua kisah di atas sudah waktunya untuk diadakan  penelitian ilmiah secara konprehensif melibatkan berbagai pakar agar kisah-kisah peradaban masa lalu di pulau Buton dapat terkuat secara konseptual. Kita tidak boleh merasa malu jika hasil penelitian itu menyebutkan bahwa nenek moyang suku buton adalah menganut faham Hindu-Budha, malah sebaliknya menjadi suatu kebanggaan tersendiri jika para peneliti bisa membuktikan itu semua agar sejarah budaya buton dapat diisi dengan lembaran-lembaran cerita yang benar dan akurat demi kebesaran buton pada zamannya dan anak cucu kita dikemudian hari.



Lokasi kekuasaan bawah tanah masa lalu di kenal dalam kisah Agartha. Agartha adalah legenda dunia bawah tanah yang sangat beradab. Menurut legenda ada banyak goa-goa di bawah tanah, terowongan dan koridor bawah tanah berliku-liku tersambung dalam bentuk jaringan, di bawah tanah terkubur rahasia peradaban kuno dan harta karun yang tak ada habisnya.

Pada tahun 1906, William Reed menerbitkan sebuah buku "Phantom of the Poles", dalam buku itu ia mengklaim tidak ada yang dapat menemukan Arktik dan Antartika, karena mereka tidak ada, mereka adalah pintu masuk ke dunia bawah tanah. Marshall Gardner nama samaran penulis sains Martin Gardner pada tahun 1913 menulis sebuah buku berjudul "A Journey to the Earth's Interior", dalam buku itu ia bersumpah bahwa dalam rongga bumi ada matahari yang berdiameter 600 mil. Gardner juga menyebutkan bahwa pada kedua bumi ada lubang yang lebar. 

Pada masa lalu diyakini oleh sebagian masyarakat kepulauan tukang besi bahwa laut yang terdapat antara pulau Oroho (Liya-Wangi-Wangi) dengan pulau Kaledupa terdapat suatu ruang laut yang pada waktu-waktu tertentu airnya berputar melingkar secara dasyat. Pada masa lalu kawasan laut ini merupakan hal yang mesterius dimana kapal –kapal yang akan menuju arab (segi tiga bermuda) akan hilang tertelan oleh pusaran laut tersebut dan seketika telah keluar di ruang kawasan segi tiga bermuda.

Demikian pula sebaliknya----sehingga patut diduga bahwa kedatangan para rombongan orang-orang sakti dari kawasan arabia termasuk kedatangan rombongan Wa Ka Ka sebelum menuju ke pulau Buton terlebih dahulu menggunakan jalur ini. Oleh karena itu yang menjadi inspirasi para ilmuan sejarah kedepan adalah bahwa Liya yang berdekatan dengan lokasi pusaran air antara selat pulau Kaledupa dan pulau Oroho (Wangi-Wangi) adalah merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia dengan ditandai dengan peninggalan artefak benteng keraton sebanyak 3 lapis secara berurutan. Pada tahun 2010 sampai 2011 zonasi lapis I dan lapis II telah dilaksanakan oleh Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BPPP) Makassar dengan diperoleh luas benteng keseluruhan 330.880 M2. Untuk pelaksanaan data teknis dan zonasi Benteng Liya lapis III rencana akan dilakukan tahun 2015 mendatang melalui dana dekosentrasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Perkiraan luas Benteng Liya lapis III adalah 300.000 M2 sehingga total luas benteng sejumlah 660.880 M2.****

Rabu, 08 Oktober 2014

GAJAH MADA LAHIR DAN MAKAMNYA DI LIYA WAKATOBI

OLEH : MAHAJI NOESA


 Kompasianer menilai menarik. Pulau Buton di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara dalam catatan sejarah, pernah menjadi tempat pilihan perlindungan yang aman dari sejumlah bangsawan kerajaan ternama di Nusantara. Bahkan dalam penelusuran terakhir, ditemukan petunjuk dari sejumlah catatan dan bukti arkeolog, Pulau Wangiwangi yang dulunya masuk wilayah Buton dan kini menjadi Kabupaten Wakatobi justru tempat lahir dan moksanya Gajah Mada, Mahapatih Kerjaaan Majapahit yang terkenal dengan ‘Sumpah Palapa’ - Pemersatu Nusantara.


MAHA PATIH GAJAH MADA


GAJAH MADA/Ft:budaya-liya.blogspot.com Lembaga  Swadaya Masyarakat Forum Komunikasi (Forkom) Kabali Indonesia yang dibentuk sejak 6 Desember 2009 di Kabupaten Kepulauan Wakatobi, kini begitu konsen mengumpulkan data dari berbagai sumber, bukti arkeolog, dan berupaya keras menjalin kerjasama dengan semua pihak terkait untuk membuka tabir emas adanya petunjuk perjalanan hidup Gajah Mada di Pulau Wangiwangi. Sejarah nasional mencatat bagaimana Mahapatih Kerajaan Majapahit yang diperkirakan lahir pada tahun 1290 (Encarta Encylopedia) itu memiliki kemampuan strategi di medan perang serta kecerdasan berpikir untuk kemaslahatan kehidupan masyarakat yang luas di masanya. Tapi, dimana tempat wafat dan makamnya, hingga saat ini belum ada keterangan yang pasti. Dari sejumlah catatan yang telah dihimpun Forkom Kabali, sekitar bulan Sya’ban 634 Hijriyah atau akhir tahun 1236 Masehi sebuah kapal layar Popanguna menggunakan simbol bendera Buncaha strep-strep warna Kuning Hitam merapat di Kamaru, wilayah pesisir arah utara timur laut Pulau Buton. Kapal tersebut memuat bangsawan bernama Simalaui dan Sibaana (bersaudara) dikawal seorang sakti mandraguna bernama Sijawangkati bersama puluhan pengawalnya, yang diperkirakan berasal dari Bumbu, negeri melayu Pariaman. Kedatangan mereka ke Pulau Buton diperkirakan lantaran terjadi pergolakan yang memaksa untuk meninggalkan tempat asalnya. Terbukti, setelah mereka membuat pemukiman di Kamaru, juga membangun sebuah perlindungan yang hingga kini dikenal dengan sebutan Benteng Wonco. Sijawangkati pun kemudian memohon diri untuk membuat pemukiman tersendiri di Wasuembu serta membuat Benteng Koncu di Wabula.


TARI LARIANGI LIYA


Masjid Al-Mubaroq Keraton Liya/Ft:budaya-liya.blogspot.com Syahdan, beberapa waktu kemudian datang lagi dua buah kapal yang diburitannya ditandai dengan kibaran bendera Davialo berwarna Merah Putih di Teluk Kalumpa, tak jauh dari tempat pendaratan Simalaui, Sibaana, dan Sijawangkati dan rombongannya. Sijawangkati dan Sitamanajo menyambut kedatangan mereka. Ternyata, kedua kapal tersebut membawa Raden Sibahtera, Raden Jatubun dan Lailan Mangrani yang kesemuanya merupakan anak dari Raja Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya. Setiap kapal memuat sekitar 40 orang pengikut. Singkat cerita, kehadiran para pendatang tersebut, selain berupaya menjalin keakraban dengan warga di sekitar Pulau Buton, juga di antara pendatang saling menguatkan persahabatan. Raden Sibahtera yang diangkat menjadi Raja Buton mempermaisurikan Wa Kaa Kaa (Mussarafatul Izzati Al Fahriy). Sedangkan Sijawangkati menyunting Lailan Mangrani (Putri Raden Wijaya). Dari perkawinan Sijawangkati dengan Lailan Mangrani membuahkan keturunan 2 anak laki-laki dan 1 perempuan. Anak tertua lelaki itulah yang kemudian diberi nama Gajah Mada. Sejak kecil Gajah Mada telah memperlihatkan kecerdasan dan kesaktian. Ayahnya, Sijawangkati yang disebut-sebut keturunan wali di negeri Melayu terkenal memiliki ilmu-ilmu kesaktian sudah berupaya menurunkan ilmunya kepada Gajah Mada sejak berusia 7 tahun. Ketika berumur sekitar 15 tahun, Gajah Mada lalu dibawa oleh ibunya (Lailan Mangrani) menemui kakeknya Raden Wijaya di Pulau Jawa. Tatkala Kerajaan Majapahit dipimpin Jayanegara (1309 - 1328 M) — anak Raden Wijaya dari perkawinan dengan Dara Petak dari Jambi, Sumatera, Gajah Mada pun tampil berperan membantu melawan pemberontakan yang muncul dari lingkungan kerajaan sendiri. Dia memimpin pasukan Bhayangkara bertugas menjaga keamanan raja dan keluarganya. Dahsyatnya Pemberontakan Kuti (1319 M) yang dipelopori salah seorang pejabat Kerajaan Majapahit, sampai memaksa Raja Jayanagara, berikut istri Raden Wijaya dan putrinya Tribhuwanattunggadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita mengungsi ke Bedander. Akan tetapi berkat kecerdikan dan kepiawaian Gajah Mada, pemberontakan dapat diredam. Raja dan keluarganya pun aman untuk kembali bertahta ke istana. Tarian adat Liya di alun-alun masjid Keraton Liya/Ft:budaya-liya.blogspot.com Pascaperistiwa tersebut Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Menteri Wilayah (Patih) Majapahit, membawahi Daha dan Jenggala. Kepercayaan kepada Gajah Mada yang diberi gelar Pu Mada diperluas dengan kewenangan hingga Jenggala - Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Setelah Mahapatih Kerajaan Majapahit Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, kedudukannya digantikan oleh Gajah Mada. Dari catatan yang dihimpun Lembaga Forkom Kabali (www.budaya-liya.blogspot.com), ada yang menyebut Gajah Mada wafat 1364 akibat penghianatan Hayam Wuruk. Namun data lain yang dihimpun dengan sejumlah fakta pendukung, setelah Gajah Mada membaca gelagat pihak berkuasa di Kerajaan Majapahit tak lagi memberikan kepercayaan kepadanya, ia bersama sejumlah pengikut setianya melakukan pelayaran kembali ke tempat kelahirannya di wilayah kepulauan Wangiwangi, Buton. Perjalanan pulang bersama rombongannya tersebut diperkirakan terjadi sekitar abad XIV, mendarat kembali di wilayah kepulauan Wangiwangi. Di pesisir pantai antara pelabuhan Sempo Liya dan Pulau Simpora terdapat Batu Parasasti yang dinamakan Batu Mada. Mahapatih Gajah Mada yang terkenal sebagai manusia memiliki banyak kesaktian tersebut kemudian memilih sebuah goa di wilayah Togo Mo’ori sebagai tempat Tapa Brata. Di dalam gowa di daratan Pulau Karang Wangiwangi yang bersambung ke laut lepas inilah diperkirakan Gajah Mada yang mengenggam cakram senjata andalannya lantas moksa (menghilang) dalam semedi. Sedangkan puluhan pengikutnya memilih sebuah gua di Batauga, Pulau Buton sebagai tempat semedi. Goa itu sampai sekarang masih dinamai sebagai Goa Mada di Kampung Mada Desa Masiri, Batauga. Himpunan informasi berkaitan dengan perjalanan hidup Gajah Mada yang kini mendapat perhatian dari Lembaga Forkom Kabali tersebut, tentu saja, perlu mendapatkan apresiasi dari pemerintah, dan terutama dari para sejarawan dan antropolog dalam rangka penyempurnaan catatan Sejarah Nasional kita. Selain mengenai perjalanan hidup Gajah Mada, kini Forkom Kabali yang memokuskan diri di bidang pelestarian nilai-nilai tradisi, sejarah dan budaya Keraton Liya di Kabupaten Wakatobi, juga telah menghimpun data jika Mahisa Cempaka (cucu dari pasangan Ken Arok dan Ken Dedes) merupakan Raja Liya (1259 - 1260). Gundukan batu yang ditinggikan (Ditondoi) yang ada di depan Masjid ‘Al Mubaraq’ Keraton Liya adalah makam Mahisa Cempaka yang pernah bersama Rangga Wuni memimipin pemerintahan di Kerajaan Singosari di Pulau Jawa. Di bawah gundukan batu Ditindoi yang di sekelilingnya ditumbuhi banyak Pohon Cempaka (Kemboja) yang telah berusia sekitar 800 tahun, diperkirakan terdapat sekitar 5 anggota dinasti Ken Arok, selain Mahisa Cempaka yang dimakamkan disitu. Model penguburan satu liang terdiri atas beberapa anggota keluarga, hingga saat ini masih terus terjadi di wilayah Liya, Wangiwangi. Fakta ini, tentu saja, kebenarannya akan memberikan nuansa baru terhadap gambaran hubungan dan dinamika pergerakan masyarakat kerajaan-kerajaan Nusantara di masa lalu. Batapa masyarakat dari Pulau Jawa sejak masa silam dengan sarana transportasi tradisional sudah dapat menjalin hubungan dengan warga di Kepulauan Wakatobi yang terhampar di Laut Banda, di arah tenggara Pulau Sulawesi.



 LATAR MESJID AL MUBARAQ LIYA


Dibandingkan saat ini, Presiden RI, SBY belum juga pernah berkunjung mememenuhi hasrat kerinduan banyak warga di kota atau kabupaten yang ada di sekitar Pulau Buton terhadap kehadiran Kepala Negara di wilayahnya. Selain itu, berdasarkan himpunan informasi dan sejumlah bukti arkeolog, jauh sebelum dibangun Masjid ‘Al-Mubaraq’ Keraton Liya (1546 M), sudah ada sebuah masjid di wilayah Liya Togo dikenal dengan nama Masjid Togo Lamantanari. Masjid itu diperkirakan dibangun tahun 1238 M oleh 18 orang Persia dipimpin Haji A.Muhammad yang terhempas gelombang ke Pulau Wangiwangi setelah kapalnya remuk melabrak karang dalam pelayaran menuju Filipina. Tentu saja, ini merupakan masjid tertua di Indonesia, sudah ada sebelum agama Islam masuk ke Aceh pada abad XIII. Walaupun masjid sudah tiada, sampai hari ini, pada saat waktu shalat dhuhur dan masuk waktu shalat ashar setiap hari masih selalu terdengar suara kumandang azan dari sekitar lokasi masjid tua ini. Kumandang azan yang sama sampai saat ini masih selalu terdengar dari sekitar makam H.Muhammad yang terletak di sekitar permandian Kohondao Liya Togo, Desa Woru, sekitar 800-an meter dari lokasi bekas masjid tua Togo Lamantanari. Ada lima desa yang disebut dengan istilah ‘Liya Besar’, yakni Desa Liya Togo, Liya Bahari, Liya Mawi, Woru, dan Mola di Pulau Wangiwangi yang kini menjadi bagian paling penting diperjuangkan oleh Lembaga Forkom Kabali untuk dijadikan sebagai Kawasan Desa Adat. Di dalamnya meliputi pelestarian Benteng Liya dengan perkampungan masyarakat adatnya yang meliputi luas hingga 20 km persegi. Terjalinnya hubungan antara raja-raja yang ada di Pulau Jawa dengan raja-raja khususnya yang ada di Liya dan sekitarnya pada masa lalu, salah satunya juga dapat dilihat dari sejumlah nama tempat yang banyak menggunakan bahasa sangsekerta (Sanskrit). http://sejarah.kompasiana.com/20****

Sumber :
http://www.sejarah.kompasiana.com/2011/04/01/gajah-mada-lahir-dan-moksa-di-liya-wakatobi/

Jumat, 23 Mei 2014

SESUAI HASIL ANALISIS PENGEMBANGAN SEJARAH : “TERNYATA GAJAHMADA SAUDARA TIRI JAYANEGARA DAN TRIBHUWANATUNGGADEWI”.

OLEH : ALI HABIU  *)

 


Siapa Gajahmada itu…??
Leo Suryadinata mengakui, sejarah awal kehidupan Gajahmada tidaklah begitu jelas. Namun, Encarta Encylopedia berani memperkirakan Gajahmada lahir tahun 1290 M. Jadi, ia lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara. Pembacaan atas tokoh Gajahmada kerap dihubungkan dengan dimensi supernatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut.
Berdasarkan foklour masyarakt buton mengatakan bahwa Gajahmada merupakan anak pertama dari pasangan Si Jawangkati dengan Lailan Mangraini. Sijawangkati adalah seorang muslim merupakan pembantu Si Malui dan adiknya bernama Si Baana dan sebagai manusia yang kedua datang di pulau Buton. Si Jawangkati dating ke pulau Buton menemani Si Malui dan Si Baana pada hari bulan sya’ban tahun 634 Hijriah dengan menumpangi behtera kapal bernama “Popanguna” berbenderakan Buncaha yakni bendera dengan motif warna kuning hitam selang-seling yang tak lain adalah bendera kerajaan asal leluhurnya dari daerah Bumbu negeri Melayu Pariaman (baca buku perak buton berjudul : Assajaru Haliqa Darul bathniy Wa Darl Munajat, serta Hikayat Negeri Buton)
Pada akhir tahun 1236 M Si Jawangkati beserta tuannya terdampar di sebelah utara timur laut Buton yakni “Kamaru” dengan bentengnya bernama “Wonco”. Si Jawangkati dengan memimpin rombongan kecil berpamitan dengan Si Malui dan Si Baana untuk mencari daerah hunian baru dan setelah ditemukan hunian ini bernama “Wasuembu”. Setelah menemui tempat baru ini Si Jawangkati langsung membuat perkampungan serta benteng pertahanan bernama “Koncu” di Wabula.

Gajahmada cucu Raden Wijaya….. !
Tak lama berselang kedatangan Si Jawangkati di pulau Buton, maka datanglah serombongan para anak-anak bangsawan dari pulau Jawa. Anak-anak bangsawan tersebut tak lain adalah Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan Lailan Mangraini yang merupakan anak-anak dari Raden Wijaya yang ketika itu masih sebagai Raja Mataram sebelum gabung dengan Majapahit.  Kedatangan ketiga anak-anak Raden Wijaya tersebut bukan tidak beralasan, mereka datang atas petunjuk ghaib yang diterima oleh dukun atau penasehat istana kerajaan Mataram untuk memerintahkan anak-anak Raden Wijaya tersebut mencari suatu pulau yang terdapat di wilayah Timur nusantara bernama pulau Buton. Setelah menemui pulau Buton ketiga anak-anak Raden Wijaya diperintahkan untuk membangun Bandar perniagaan.  Raden Wijaya, adalah seorang muslim. Hal ini karena Raden Wijaya merupakan cucu dari Raja Sunda, Prabu Guru Dharmasiksa yang sekaligus juga ulama Islam Pasundan yang mengajarkan hidup prihatin layaknya ajaran-ajaran sufi, sedangkan neneknya adalah seorang muslimah, keturunan dari penguasa Sriwijaya. Meskipun bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang sangat bernuasa Hindu karena menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi bukan lantas menjadi justifikasi bahwa beliau adalah seorang penganut Hindu.  
Kedatangan putra putri Raja Mataram itu menggunakan dua Armada antara lain satu armada dipimpin oleh Raden Sibahtera dengan adiknya Lailan Mangrani disertai dengan 40 pengikutnya, sedangkan armada yang satu dipimpin oleh Raden Jutubun beserta 40 pengawalnya. Kedua armada tersebut masing-masing membawa bendera leluhurnya yang dipasang diburitan kapal dengan warna bendera merah putih dan bendera ini dinamai “dayialo”. Kedua armada ini setelah tiba di laut Buton selanjutnya disambut oleh Si Jawangkati dan Si Tamanajo di teluk Kalampa tempat kedua armada tersebut berlabuh. 
Tak lama berselang beberapa tahun kemudian setelah Raden Sibahtera telah dinobatkan menjadi Raja Pertama Buton dengan permaisurinya bernama gelar Wa Kaa Kaa atau nama aslinya Mussarafatul Izzati Al Fakhriy, maka kawinlah Si Jawangkati denga Lailan Mangrani. Hasil dari perkawinan Sijawangkati dengan Putri Raden Wijaya ini membuahkan seorang anak pertama seorang bayi yang cukup besar dan  berparas jelek dan diberi nama Gajahmada. Mulai umur 3 tahun Gajahmada ini memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa baik secara kekuatan fisik maupun instink dan setelah usia mencapai 7 tahun maka dilatihlah oleh ayahnya ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian. Perlu diketahui bahwa Si Jawangkati ini adalah seorang amat sakti dari asal keturunan para wali negeri melayu.
Kemudian setelah ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian telah diturunkan oleh ayahandanya kepada Gajahmada, genap usia 15 tahun Gajahmada di bawalah ke pulau Jawa oleh ibunya Lailan Mangrani untuk membantu Raden Wijaya dalam kesulitan melawan para pemberontak dari dalam kalangan lingkungan kerajaan Majapahit. Disanalah awal kisah Patih Gajahmada dalam peranannya membantu neneknya sendiri yakni Raden Wijaya dan pamannya bernama Jaya Negarauntuk memberantas para penjahat kerajaan (baca kisah Gajah Mada semakin sangat jelas, Gajah Mada lahir dan wafat di wilayah eks kerajaan buton, http://kabali-indonesia.blogspot.com/2012/09/semakin-sangat-jelas-kisah-maha-patih.html)
Leo Suryadinata menulis, Gajahmada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam meraih mobilitas vertikalnya. Karirnya lanjutannya adalah kepala pasukan Bhayangkara, pasukan penjaga keamanan Raja dan keluarganya. Raja yang menjadi junjungannya saat itu adalah Jayanagara yang berkuasa di Majapahit sejak 1309-1328 M. Menjadi mungkin, Gajahmada telah meniti karir militer sejak kekuasaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dan sedikit banyak memahami spirit pemerintahannya.

Gajahmada Bersaudara Tiri dengan Jayanagara dan Tribuwanattunggadewi ….!
Jayanagara ini adalah putra pasangan Raden Wijaya dengan seorang putri Sumatera (Jambi) bernama Dara Petak. Sebab itu, darah yang mengalir di tubuh Jayanagara bukanlah pure Jawa. Anggapan yang relatif rasis ini merupakan fenomena sebuah kancah politik hegemoni dalam kekuasaan aneka suku bangsa tatkala itu. Buktinya, pernah tahun 1316 M muncul pemberontakan Nambi yang menurut http://www.gimonca.com muncul akibat sentimen "darah" Jayanagara tersebut. Meski pemberontakan itu berhasil dipadamkan, seolah sesuatu yang laten (faktor rasisme) 'menyala' dalam politik Majapahit ini.

Tatkala Gajahmada jadi kepala pasukan Bhayangkara, meletus pemberontakan Ra Kuti, salah satu pejabat istana tahun 1319 M. Pemberontakan ini cukup menohok, oleh sebab si pemberontak mampu menduduki ibukota. Jayanagara berikut istri Raden Wijaya dan putrinya (Tribhuwanattungadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita) mengungsi ke Bedander. Selaku kepala pasukan keamanan, Gajahmada memastikan keamanan raja dan keluarga. Setelah dinyatakan save, ia berbalik ke ibukota guna menyusun serangan balasan.

Ia meneliti kesetiaan rakyat dan pejabat Majapahit kepada Raja Jayanagara dengan memunculkan isu keterbunuhan raja. Menurut anggapannya, raja dan sebagian besar pejabat Majapahit menyayangkan kematian raja dan membenci perilaku Ra Kuti. Atas dasar ini, Gajah Mada menyusun serangan balasan secara kemiliteran, dan berhasil membalik keadaan. Pemberontakan Kuti pun dipadamkan. Raja dan keluarganya kembali ke ibukota.

Kebijakan Jayanagara ditopang oleh kemampuan politik Arya Tadah, mahapatih Majapahit. Fokus kebijakan raja dan mahapatih ini adalah stabilitas politik dalam negeri. Jadi, Majapahit belum lagi melakukan penaklukan ke pulau-pulau "luar" Jawa. Ini mengingat Gajahmada belum memegang peran penting di dalam pembuatan keputusan politik level negara.

Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikan status Gajahmada dari sekadar komandan pasukan Bhayangkara menjadi menteri wilayah (patih) dua daerah kekuasaan Majapahit: Daha dan kemudian, Jenggala. Posisi tersebut cukup berpengaruh mengingat dua wilayah tersebut diwenangi oleh putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara sendiri belumlah memiliki putra laki-laki selaku penerus tahta.

Bukti mengenai hal ini, seperti ditulis Heritage of Java, sebuah enskripsi bernama Walandit menceritakan gelar Gajahmada dalam kekuasaan barunya itu adalah Pu Mada. Wilayah yang diwenangi kepatihan Gajahmada adalah Jenggala-Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara tidaklah tetap. Versi cerita seputar perubahan loyalitas tokoh ini pada rajanya, paling tidak ada tiga. Seluruhnya berorama motif pribadi.

Pertama, dari Charles Kimball yang menulis, loyalitas Gajahmada terhadap Jayanagara mengalami titik balik tatkala raja mengambil istri Gajahmada selaku haremnya. Kedua, Kitab Negara Kertagama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajahmada akibat mulai jatuh hatinya Raja Jayanagara terhadap dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajahmada sendiri. Ketiga, novelis Langit Kresna Hariyadi, yang menulis loyalitas Gajahmada terhadap Jayanagara berubah akibat kekhawatian Gajah Mada atas mulai berubahnya sikap raja terhadap Tribhuwanattunggadewi.

Ketiga asumsi tersebut melatarbelakangi proses meninggalnya Raja Jayanagara tahun 1328. Versi meninggalnya Jayanagara pun berlatar belakang loyalitas Gajahmada pada Jayanagara. Versi Kimball menyatakan, Gajahmada menskenario pembunuhan atas Jayanagara dengan memanfaatkan tangan Ra Tanca, tabib istana. Tanca dipaksa membunuh Jayanagara akibat suruhan Gajah Mada dalam suatu proses pembedahan atas diri raja. Versi ini didukung pula oleh pendapat Leo Suryadinata, yang juga menulis kekecewaan Gajahmada akibat istrinya diambil oleh raja sebagai motif asasinasi. Setelah raja meninggal, Gajahmada menuding Tanca ini telah membunuh raja dan ia pun dieksekusi mati olehnya sendiri. Peristiwa 1328 M ini menggambarkan rumitnya politik pada aras Palace Circle. Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib dan masa depan suatu negara.


 Mahapatih Gajahmada


Pada masa terbunuh dan digantinya Jayanagara ini, Odoric dari Pordonone, pendeta ordo Fransiskan dari Italia mengunjungi Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Setelah terbunuhnya Jayanagara, Gajahmada berkeras Tribhuwanattunggadewi dijadikan ratu Majapahit. Belum ditemukan bukti yang cukup seputar alasan kekerasan hati Gajah Mada atas penunjukan ini. Namun yang belum sampai analisis para ahli sejarawan kita hingga saat ini adalah Gajah Mada dan Jayanegara sebetulnya adalah saudara tiri. Gajahmada lahir dari seorang selir Raden Wijaya semasa masih menjadi Raja Mataram dan Jayanegara lahir dari seorang ibu bernama dara petak masa Raden Wijaya menjabat Raja Majapahit. Hingga saat ini belum terkomfirmasi siapa nama slir Raden Wijaya semasa menjabat Raja Mataram yang memiliki 3 orang anak bernama Raden Sibahtera, Raden Jutubun dan Lailan Manggraini. Kalau silsilah dalam kerajaan Mataram bisa ditemukan, maka disana akan terungkap struktur keluarga Gajahmada secara spesifik yang memecahkan teka teki asal usul Gajahmada yang kontroversial.

Asumsi lain dari analisis ras, Gajahmada mungkin kuwatir singgasana akan jatuh pada Arya Damar, keturunan Raden Wijaya dari istri yang asal Jambi. Sementara, Tribhuwanattunggadewi adalah putri keturunan Raden Wijaya asli pulau Jawa. Mungkin saja, opini yang muncul saat itu adalah putra asli atau bukan. Atau, dimungkinkan pula, dengan beralihnya kekuasaan pada ratu ini, Gajahmada lebih leluasa dalam mengambil tindakan. Konflik suksesi ini terbukti dengan baru dilantiknya Ratu Tribhuwanattunggadewi tahun 1329, sekurang-kurangnya menurut Charles Kimball. Pemimpin perempuan Majapahit ini berkuasa sejak 1329 hingga 1350 M. Pada fase ini, Majapahit memulai fase penaklukannya.
Analisis rasialitas ini memiliki alasan pribadi yang sangat mendalam, yang mana antara Gajahmada, Arya Damar dan Tribhuwaanattunggadewi adalah semua bersaudara satu ayah bernama Raden Wijaya dan lain ibu yang mana Gajah Mada tentu dalam menunjuk atau memperjuangkan saudara-saudaranya berdasarkan pengamatan pribadi dia mana yang memiliki kelebihan sifat kepemimpinan antara keduanya Arya Damar dan Tribhuwanattunggadewi maka dia memilih memperjuangkan Tribhuwanattunggadewi sebagai Raja Majapahit pengganti Jayanegara.

Mahapatih Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, dan praktis posisi tersebut jatuh ke tangan Gajahmada. Tribhuwanattunggadewi sangat mendukung program-program Gajahmada. Tahun 1331 M meletus pemberontakan Sadeng dan Keta, di wilayah timur Pulau Jawa. Gajah Mada mengirim ekspedisi militer ke sana dan berhasil memadamkan pemberontakan wilayah tersebut. Ra Kembar, salah satu bangsawan dan pejabat Majapahit berusaha menutup jalan pasukan Gajah Mada ke wilayah Sadeng, baik secara politik maupun militer.

Lokasi Wafat Gajahmada….?
Beberapa refensi menyebutkan bahwa Gajahmada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dihianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa BUBAT dimana Gajahmada di singkirkan ke wilayah Madakaripura dan hidup Gajahmada di wilayah itu asketis (http://setabasri01.blogspot.com)

Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk (Rajasanagara) sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajahmada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini, Hayam Wuruk mengarahkan politiknya ke arah stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau "luar" seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina itu pun diluluhlantakkan.
Dalam analisis penulis Gajahmada tidak dibunuh oleh Hayam Wuruk, namun dia begitu melihat sudah tak ada lagi kepercayaan dari sang Raja, dia menggunakan taktiknya untuk menghilangkan diri dari wilayah pengasingannya dengan diam-diam dia berangkat dengan membawa pasukan atau prajuritnya inti yang setia sampai mati sebanyak 40 orang berlayar menuju negeri asal kelahirannya yakni pulau Buton. Setelah melalui perjalanan panjang dari pulau Sumatera menuju pulau Buton Gajahmada dan rombongan prajuritnya melewati kepulauan tukang besi yang sekarang dikenal dengan Wakatobi. Perlu diketahui bahwa Gajahmada adalah seorang sakti mandraguna sebagaimana kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya Si Jawangkati sehingga dalam perjalannya pulau ke pulau Buton dia dituntun secara ghaib dan senantiasa mendapatkan petunjuk-petunjuk spiritual dalam pelariannya. Oleh karena itu setelah melewati pulau Wangi-Wangi, Gajahmada singgah dengan prajurit setianya sebentar disalah satu pulau kecil di bagian barat kepulauan Wangi-Wangi dengan memasang simbol-simbol disana. Pada saat rombongan Gajahmada singgah di pulau ini dia disambut dengan baik oleh penghuni yang sudah lama mendiami pulau kecil ini yang tak lain adalah merupakan para hulubalang dan bajak laut (bajak laut tobelo). Para bajak laut di pulau ini terdiri dari sebagian besar adalah para prajurit Raja Khan yang berkuasa di Kamaru pertengahan abad IX dan sebagian asal Mingindanau, Papua, Tobelo, Lanun, Balangingi. Setelah beberapa saat Gajahmada menyinggahi pulau kecil ini dalam pelariannya ke pulau Buton, akhirnya berdasarkan petunjuk ghaib dia dapatkan memutuskan untuk wafat di pulau ini, sementara ke 40 prajurit inti pengawal setianya sebelumnya diperintahkan untuk melanjutkan perjalannya menuju pulau Buton dengan maksud agar kerahasiaan Maha Patih Gajahmada yang amat sakti ini tetap terjaga. Gajahmada akhirnya di pulau kecil sebelah barat wangi-wangi tersebut memutuskan untuk melakukan tapah brata didalam suatu gua yang didalamnya datar tembus ke laut dalam dan disanalah Maha Patih Gajamada meninggalkan alam maya padah ini dalam keadaan duduk bersemedi dengan salah satu bagian tangannya menggenggam cakram sebagai senjata andalannya. 

 Mahapatih Gajahmada

Meskipun secara ilmiah masih diperlukan penelitian mendalam atas riwayat ini, namun bahwa bukti-bukti secara ontologisme dapat dipertimbangkan dari salah seorang tua pertapa yang pernah menemukan Gajahmada dalam gua ini pernah menkisahkan secara terbatas dalam kalangan keluarga di pulau wangi-wangi, karena ada rasa ketakutan luar biasa ketika melihat sosok orang tak bergerak dalam keadaan duduk bersemedi dalam sebuah bagian gua di pulau kecil tersebut. Selain itu bukti-bukti fisik baik situs, atefak, artifak sejarah yang belum terpublikasi dan hanya dikonsumsi dari kalangan tertentu penduduk salah satu desa yang terdapat di pulau wangi-wangi telah diriwayatkan oleh leluhurnya secara turun temurun adanya segumpal batu muncul kepermukaan laut ketika air laut surut dan batu ini dinamai situs batu Mada.
Menurut folklour masyarakat setempat keberadaan situs batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajahmada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti. Tak jauh dari situs batu Mada terdapat situs Oa (Gua) Buea yang digunakan oleh Gajahmada sebagai pintu rahasia keluar masuk menuju persembuyiannya. Tak jauh dari situs Gua Buea terdapat situs Kuni yang diyakini oleh masyarakat lokal sebagai tempat semedi Gajahmada dan tak jauh dari situs Kuni terdapat situs Oa (Gua) Winte yang diyakini oleh masyarakat lokal sebagai gua tempat penyimpanan harta-harta berharga Gajahmada.
Sedangkan ke 40 orang prajurit inti pengawal setianya berlabuh di Batauga salah satu wilayah pulau Buton terdekat dari kepulauan wangi-wangi, dan merekapun setelah tiba di wilayah ini tidak begitu lama berselang kemudian mencari sebuah gua yang lebar dan luas. Dan di dalam gua inilah ke 40 orang prajurit inti pengawal setia Maha Patih Gajahmada mlakukan semedi berbulan-bulan sampai mereka semua meninggal secara bersamaan di dalam gua ini. Keberadaan Gua ini di Batauga di kenal dengan nama Gua Mada tepatnya terdapat di desa Masiri Batauga.
Berdasarkan foklour masyarakat buton, diyakini bahwa Gajahmada lahir di buton dan merupakan anak pertama dari Si Jawangkati seorang muslim asal Johor-Melayu dengan ibu bernama Lailan Mangrani juga seorang muslim yang tak lain adalah anak slir  Raden Wijaya yang ketika itu sebagai Raja Mataram. Gajahmada sengaja secara rahasia dibawa oleh ibunya ke pulau Jawa untuk mengamankan sekaligus melindungi kakeknya bernama Raden Wijaya mengingat kala itu terdapat banyak pemberontakan dalam kalangan istana Majapahit, yang mana Gajah Mada diyakini memiliki kesaktian luar biasa hasil didikan orang tuanya . Oleh karena itu sejarah asal usul Gajahmada di kerajaan Majapahit tidak dimiliki mengingat kedatangannya disana merupakan urusan dalam internalitas keluarga pribadi Raja Majapahit. Dan  tak kala penting yang para ahli sejarah kita luput selama ini ialah bahwa ternyata “Gajahmada merupakan saudara tiri Jayanegara, Arya Damar, Tribhuwanatunggadewi. Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita. Jika silsilah keluarga ibu Gajahmada seorang slir istana Mataram bisa didapatkan, maka akan membuka ruang babak sejarah baru tentang Gajahmada di tanah air merevisi semua penulisan-penulisan sejarah yang sudah terbukukan selama ini. ****

*) Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia.

Rabu, 05 Maret 2014

SEMAKIN SANGAT JELAS KISAH MAHA PATIH GAJAH MADA BAHWA GAJAH MADA LAHIR DAN WAFAT DI EKS WILAYAH KERAJAAN BUTON


OLEH : ALI HABIU *)


 
Konstruksi sejarah Maha Patih Gajah Mada yang diakui oleh berbagai ahli sejarah di Indonesia masih tidak jelas dimana lahirnya, siapa ayah dan ibunya serta dimana dia meninggal dunia, dengan berbagai temuan hasil penelitian belakangan ini semakin memberikan ketegasan bahwa Maha Patih Gajah Mada lahir dan meninggalnya di eks wilayah kerajaan buton. Walaupun statemen ini diperoleh baru sebatas hasil observasi lapangan dari berbagai hasil wawancara (data foklour) dengan masyarakat buton dan masyarakat Liya serta berbagai artifak, atefak, situs yang menunjukkan keberadaan Maha Patih Gajah Mada di wilayah tersebut, namun masyarakat lokal sangat meyakini bahwa histeryografi yang dibangun oleh masyarakat buton dan Liya tentang keberadaan Maha Patih Gajah Mada tersebut bukan tidak beralasan karena diturunkan secara tutur ratusan tahun silam secara turun temurun dari leluhur mereka (baca abstraksi penelitian penelusuran jejak makam maha patih gajah mada di wilayah buton sulawesi tenggara, http://www.bumibuton.blogspot.com/2012/01/abstraksi-penelitian-penelusuran-jejak.html)

Menurut tulisan Sufyan Al  Jawi Arkeolog di Numismatik Indonesia berjudul “Jejak Prajurit islam Majapahit dari Bali hingga Australia”, yang dimuat dalam media on line, mengatakan bahwa Maha Patih Gajah Mada itu adalah seorang  Muslim. Hal ini didasarkan fakta sejarah bahwa ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit  di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton-pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.


Maha Patih  Gajah Mada


Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.
Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria: Mada; Gondang (Tenggulun-Lamongan) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman-teman lama beliau. Dari desa-desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya. Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang-Malaya, Bugis-Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut Luar Jawa.

Hal ini adalah wajar, karena di Jawa, Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada-Lamongan, politikus abad ke 14.

Sementara dilain pihak, Sufyan Al Jawi, dalam artikelnya yang berjudulMeluruskan Sejarah Maha Patih Gajah Mada” mengatakan bahwa Historyografi (Penulisan Sejarah) suatu bangsa merupakan kewajiban dari bangsa itu sendiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Ilmu sejarah itu dinamis, tidak statis.
Meskipun kedinamisan dalam ilmu sejarah itu lamban, dan bisa berubah apabila ditemukan bukti-bukti baru yang akurat. Tentu harus dengan kaidah Historyografi, yaitu : ilmiah – berdasarkan fakta bukan spekulasi, jujur tidak ada yang ditutupi dan netral terlepas dari kepentingan politik/agama tertentu.
Untuk menulis sejarah tidak bisa hanya dengan membaca buku-buku status quo, itu berarti merupakan pengulangan/saduran saja. Juga tidak cukup dengan kajian tesis sejarah dikampus dan seminar, tapi wajib riset di lapangan, observasi mencari situs tersembunyi, ekskavasi situs, dan bila perlu melakukan forensik.
Sejak JLA Brandes, NJ Krom, dan JH Kern dari tahun 1902-1920 menulis sejarah bangsa kita, tentang Majapahit dan Sriwijaya secara sudut pandang Barat (Modern), banyak sejarahwan menulis puluhan buku tentang Majapahit. Namun tak ada satu pun yang berhasil mengungkap jatidiri tokoh besar Majapahit, Mahapatih Gajah Mada.

…..”Sungguh aneh dan miris! Karena begitu besarnya nama Gajah Mada, tapi tidak diketahui asal usulnya? Sehingga meimbulkan spekulasi beberapa daerah yang mengklaim Gajah Mada berasal dari daerah mereka, tanpa di dasari oleh fakta yang akurat…..”

Statemen artikel
Sufyan Al  Jawi di atas semakin mendukung data folklour masyarakat buton yang diyakininya bahwa Ayah Gajah Mada bernama Si Jawangkati seorang sakti asal johor yang datang bersamaan rombongan Si Malui dan dia sebagai pengawal pribadi Si Malui diperkirakan mendarat di pulau buton tahun 1238 masehi. Si Jawangkati seorang muslim dalam riwayat beberapa sejarah kontemporer buton disebutkan sebagai seorang sakti mandraguna, ahli kanukragan dan ahli berbagai ilmu kebathinan. Mula mendarat armada laut Si Malui dan Sijawangkati dan rombongan di Kamaru yang letaknya sebelah timur kota bau-bau saat ini. Tak lama mereka tiba disana, Si Malui membuat benteng Wonco di Kamaru dan Si Jawanagkati diperintahkan untuk membuat benteng Wabula di Wasuemba Lasalimu, jarak sekitar 48 km arah selatan Kamaru.

Menjelang akhir  abad XII, sekitar tahun 1287 datanglah rombongan kakak beradik bernama Raden Jutubun dengan nama panggilan Bau Besi yang disertai adiknya yang bernama Lailan Manggraini beserta 40 orang pengikut setiaanya di pulau Buton menyusul kakaknya yang bernama Raden Sibahtera yang telah datang sebelunnya. Ketiga kakak beradik ini muslim adalah merupakan anak selir Raden Wijaya semasa masih menjadi Raja Mataram. Pada saat peralihan kerajaan Mataram ke kerajaan Majapahit, diam-diam Raden Wijaya mengutus ketiga orang anaknya ini untuk membuat Bandar di pulau buton (baca sejarah perak buton, berjudul : Assajaru Haliqa Darul Bathniy Wa Darul Munajat dan Hikayat Negeri Buton)

Tak lama Lailan Manggraini berada di pulau Buton, diam-diam Si Jawangkati menaruh hati dan melamarnya menjadi istrinya. Hasil perkawinan antara Si Jawanagkati dan Lailan Manggraini inllah melahirkan Gajah Mada.  Semasa kecil Gajah Mada sudah memiliki tanda-tanda sebagai kesatria, makanya ayahandanya tak segang-segang mewariskan seluruh ilmu kesaktian yang dimilikinya kepada Gajah Mada. Pada usia menjelang 15 Tahun, Gajah Mada dibawah ke pulau Jawa oleh ibunya, karena mendengar bahwa neneknya bernama Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit tengah dalam kesulitan mengatasi pemerintahannya, karena banyaknya pemberontakan dalam istana. Kedatangan Gajah Mada di pulau jawa bersifat rahasia, oleh karena itulah sejarah asal muasalnya Gajah Mada di pulau Jawa hingga saat ini tidak ada dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit. Dan menjadi menggelitik para tokoh masyarakat buton, “mengapa para sejarawan, para arkiolog di Indonesia hingga saat ini hanya melulu terobsesi dengan folklour tentang kisah Gajah Mada yang ada di desa mada, desa gondang, desa badender dan trowulan jawa timur sementara disana hingga saat ini belum jelas konstruksi sejarah asal muasal termasuk wafatnya ?! Adakah memang perbedaan entitas kesukuan di negeri ini, sehingga eksistensi kebesaran Maha Patih Gajah Mada harus mutlak selalu berada di pulau Jawa ?! Lantas Buton sebagai eks wilayah kerajaan Majapahit (pupuh XIV negarakretagama) dan eks wilayah keresian Majapahit (pupuh LXXVIII negarakretagama) mau disembunyikan dikolong bawa tanah mana di negeri ini ?! “Pada saatnya duniapun akan tahu ketidakadilan ini..” Ojo Dumeh !! ****

*). Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia.