bumi buton indonesia

bumi buton indonesia
POSE BERSAMA PEMERHATI BUDAYA DARI BELANDA

Rabu, 05 Maret 2014

SEMAKIN SANGAT JELAS KISAH MAHA PATIH GAJAH MADA BAHWA GAJAH MADA LAHIR DAN WAFAT DI EKS WILAYAH KERAJAAN BUTON


OLEH : ALI HABIU *)


 
Konstruksi sejarah Maha Patih Gajah Mada yang diakui oleh berbagai ahli sejarah di Indonesia masih tidak jelas dimana lahirnya, siapa ayah dan ibunya serta dimana dia meninggal dunia, dengan berbagai temuan hasil penelitian belakangan ini semakin memberikan ketegasan bahwa Maha Patih Gajah Mada lahir dan meninggalnya di eks wilayah kerajaan buton. Walaupun statemen ini diperoleh baru sebatas hasil observasi lapangan dari berbagai hasil wawancara (data foklour) dengan masyarakat buton dan masyarakat Liya serta berbagai artifak, atefak, situs yang menunjukkan keberadaan Maha Patih Gajah Mada di wilayah tersebut, namun masyarakat lokal sangat meyakini bahwa histeryografi yang dibangun oleh masyarakat buton dan Liya tentang keberadaan Maha Patih Gajah Mada tersebut bukan tidak beralasan karena diturunkan secara tutur ratusan tahun silam secara turun temurun dari leluhur mereka (baca abstraksi penelitian penelusuran jejak makam maha patih gajah mada di wilayah buton sulawesi tenggara, http://www.bumibuton.blogspot.com/2012/01/abstraksi-penelitian-penelusuran-jejak.html)

Menurut tulisan Sufyan Al  Jawi Arkeolog di Numismatik Indonesia berjudul “Jejak Prajurit islam Majapahit dari Bali hingga Australia”, yang dimuat dalam media on line, mengatakan bahwa Maha Patih Gajah Mada itu adalah seorang  Muslim. Hal ini didasarkan fakta sejarah bahwa ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit  di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton-pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.


Maha Patih  Gajah Mada


Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.
Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria: Mada; Gondang (Tenggulun-Lamongan) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman-teman lama beliau. Dari desa-desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya. Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang-Malaya, Bugis-Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut Luar Jawa.

Hal ini adalah wajar, karena di Jawa, Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada-Lamongan, politikus abad ke 14.

Sementara dilain pihak, Sufyan Al Jawi, dalam artikelnya yang berjudulMeluruskan Sejarah Maha Patih Gajah Mada” mengatakan bahwa Historyografi (Penulisan Sejarah) suatu bangsa merupakan kewajiban dari bangsa itu sendiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Ilmu sejarah itu dinamis, tidak statis.
Meskipun kedinamisan dalam ilmu sejarah itu lamban, dan bisa berubah apabila ditemukan bukti-bukti baru yang akurat. Tentu harus dengan kaidah Historyografi, yaitu : ilmiah – berdasarkan fakta bukan spekulasi, jujur tidak ada yang ditutupi dan netral terlepas dari kepentingan politik/agama tertentu.
Untuk menulis sejarah tidak bisa hanya dengan membaca buku-buku status quo, itu berarti merupakan pengulangan/saduran saja. Juga tidak cukup dengan kajian tesis sejarah dikampus dan seminar, tapi wajib riset di lapangan, observasi mencari situs tersembunyi, ekskavasi situs, dan bila perlu melakukan forensik.
Sejak JLA Brandes, NJ Krom, dan JH Kern dari tahun 1902-1920 menulis sejarah bangsa kita, tentang Majapahit dan Sriwijaya secara sudut pandang Barat (Modern), banyak sejarahwan menulis puluhan buku tentang Majapahit. Namun tak ada satu pun yang berhasil mengungkap jatidiri tokoh besar Majapahit, Mahapatih Gajah Mada.

…..”Sungguh aneh dan miris! Karena begitu besarnya nama Gajah Mada, tapi tidak diketahui asal usulnya? Sehingga meimbulkan spekulasi beberapa daerah yang mengklaim Gajah Mada berasal dari daerah mereka, tanpa di dasari oleh fakta yang akurat…..”

Statemen artikel
Sufyan Al  Jawi di atas semakin mendukung data folklour masyarakat buton yang diyakininya bahwa Ayah Gajah Mada bernama Si Jawangkati seorang sakti asal johor yang datang bersamaan rombongan Si Malui dan dia sebagai pengawal pribadi Si Malui diperkirakan mendarat di pulau buton tahun 1238 masehi. Si Jawangkati seorang muslim dalam riwayat beberapa sejarah kontemporer buton disebutkan sebagai seorang sakti mandraguna, ahli kanukragan dan ahli berbagai ilmu kebathinan. Mula mendarat armada laut Si Malui dan Sijawangkati dan rombongan di Kamaru yang letaknya sebelah timur kota bau-bau saat ini. Tak lama mereka tiba disana, Si Malui membuat benteng Wonco di Kamaru dan Si Jawanagkati diperintahkan untuk membuat benteng Wabula di Wasuemba Lasalimu, jarak sekitar 48 km arah selatan Kamaru.

Menjelang akhir  abad XII, sekitar tahun 1287 datanglah rombongan kakak beradik bernama Raden Jutubun dengan nama panggilan Bau Besi yang disertai adiknya yang bernama Lailan Manggraini beserta 40 orang pengikut setiaanya di pulau Buton menyusul kakaknya yang bernama Raden Sibahtera yang telah datang sebelunnya. Ketiga kakak beradik ini muslim adalah merupakan anak selir Raden Wijaya semasa masih menjadi Raja Mataram. Pada saat peralihan kerajaan Mataram ke kerajaan Majapahit, diam-diam Raden Wijaya mengutus ketiga orang anaknya ini untuk membuat Bandar di pulau buton (baca sejarah perak buton, berjudul : Assajaru Haliqa Darul Bathniy Wa Darul Munajat dan Hikayat Negeri Buton)

Tak lama Lailan Manggraini berada di pulau Buton, diam-diam Si Jawangkati menaruh hati dan melamarnya menjadi istrinya. Hasil perkawinan antara Si Jawanagkati dan Lailan Manggraini inllah melahirkan Gajah Mada.  Semasa kecil Gajah Mada sudah memiliki tanda-tanda sebagai kesatria, makanya ayahandanya tak segang-segang mewariskan seluruh ilmu kesaktian yang dimilikinya kepada Gajah Mada. Pada usia menjelang 15 Tahun, Gajah Mada dibawah ke pulau Jawa oleh ibunya, karena mendengar bahwa neneknya bernama Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit tengah dalam kesulitan mengatasi pemerintahannya, karena banyaknya pemberontakan dalam istana. Kedatangan Gajah Mada di pulau jawa bersifat rahasia, oleh karena itulah sejarah asal muasalnya Gajah Mada di pulau Jawa hingga saat ini tidak ada dalam catatan sejarah kerajaan Majapahit. Dan menjadi menggelitik para tokoh masyarakat buton, “mengapa para sejarawan, para arkiolog di Indonesia hingga saat ini hanya melulu terobsesi dengan folklour tentang kisah Gajah Mada yang ada di desa mada, desa gondang, desa badender dan trowulan jawa timur sementara disana hingga saat ini belum jelas konstruksi sejarah asal muasal termasuk wafatnya ?! Adakah memang perbedaan entitas kesukuan di negeri ini, sehingga eksistensi kebesaran Maha Patih Gajah Mada harus mutlak selalu berada di pulau Jawa ?! Lantas Buton sebagai eks wilayah kerajaan Majapahit (pupuh XIV negarakretagama) dan eks wilayah keresian Majapahit (pupuh LXXVIII negarakretagama) mau disembunyikan dikolong bawa tanah mana di negeri ini ?! “Pada saatnya duniapun akan tahu ketidakadilan ini..” Ojo Dumeh !! ****

*). Ketua Umum Lembaga Kabali Indonesia.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

gak salah raden wijaya itu raja peralihan dari kerajaan mataram ke majapahit?